How I Fell in Love with You
It did not begin with a dramatic moment. It began quietly.
When we met at that wedding, I had no idea that one simple ride to the train station would change my life.
Everything started after that. We began texting, then calling, and slowly you became the first person I wanted to talk to every morning and the last person I wanted to say goodnight.
Being in a long-distance relationship isn't easy. We are separated by thousands of kilometers and five hours of time difference. Sometimes it makes me sad that I can't hold you and express my feelings for you in any way other than through words. But every morning I wake up to your message, and it always makes me smile. It reminds me that somewhere in Jakarta there is someone who is thinking about me.
I've always struggled to express my feelings, but with you I want to learn. You make me want to communicate better, listen better, and become a better partner. Not because you ask me to, but because you are worth becoming better for.
I love how intelligent, kind, and capable you are. I love the moments when you're smiling at me. When you're sad and you're crying, I am honored to be here for you. Every part of you is simply you, and I wouldn't want you to be anyone else.
During our first month together, I wasn't sure what this relationship would become. During our second month, I realized my feelings were becoming much deeper. I wanted to tell you that I loved you, but I was afraid it might be too soon.
Now I don't have that fear anymore.
I love you.
Not only because you are beautiful and incredibly attractive, but because when I'm with you, I feel like I can truly be myself. Even though I still sometimes wonder if I'm good enough for you, you make me believe that love isn't about being perfect. It's about choosing each other every day and growing together.
In just two weeks, I'll finally be in Jakarta. I can't wait to hold your hand, look into your eyes and see your smile without a screen between us. And I can't wait for the day when I won't have to watch you sleeping through FaceTime anymore, because you'll be sleeping beside me.
I don't want us to build our relationship only on love. I want us to build it on honesty, trust, communication, and supporting each other through everything life brings us. So that we don't have to be afraid to come with what's on our minds and listen to each other with respect and understanding. I want us to keep learning how to love each other better. I want to prove you every day that I think of you and care about you. Even if it means just sending reels.
Meeting you was unexpected. Falling in love with you happened slowly. But choosing you is something I want to do every single day.
I love you, honey. And I truly believe that the best part of our story is still waiting for us.
Ketika kita bertemu di pernikahan itu, aku tidak pernah menyangka bahwa satu perjalanan sederhana mengantarmu ke stasiun kereta akan mengubah hidupku.
Semuanya dimulai setelah itu. Kita mulai saling berkirim pesan, lalu menelepon, dan perlahan-lahan kamu menjadi orang pertama yang ingin kuajak bicara setiap pagi dan orang terakhir yang ingin kuucapkan selamat malam.
Menjalani hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Kita terpisah ribuan kilometer dan perbedaan waktu lima jam. Terkadang aku merasa sedih karena aku tidak bisa memelukmu dan mengungkapkan perasaanku kepadamu dengan cara lain selain melalui kata-kata. Namun setiap pagi aku terbangun dengan pesan darimu, dan itu selalu membuatku tersenyum. Itu mengingatkanku bahwa di suatu tempat di Jakarta ada seseorang yang sedang memikirkanku.
Aku selalu kesulitan mengungkapkan perasaanku, tetapi bersamamu aku ingin belajar. Kamu membuatku ingin berkomunikasi dengan lebih baik, mendengarkan dengan lebih baik, dan menjadi pasangan yang lebih baik. Bukan karena kamu memintaku, tetapi karena kamu layak membuatku menjadi lebih baik.
Aku mencintai betapa cerdas, baik hati, dan mampunya dirimu. Aku mencintai saat-saat ketika kamu tersenyum kepadaku. Ketika kamu sedih dan menangis, aku merasa terhormat bisa berada di sini untukmu. Setiap bagian dari dirimu adalah dirimu, dan aku tidak ingin kamu menjadi orang lain.
Selama bulan pertama kita bersama, aku tidak yakin hubungan ini akan menjadi seperti apa. Selama bulan kedua, aku menyadari bahwa perasaanku menjadi jauh lebih dalam. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, tetapi aku takut mungkin itu terlalu cepat.
Sekarang aku tidak lagi memiliki ketakutan itu.
Aku mencintaimu.
Bukan hanya karena kamu cantik dan sangat menarik, tetapi karena ketika aku bersamamu, aku merasa benar-benar bisa menjadi diriku sendiri. Meskipun terkadang aku masih bertanya-tanya apakah aku cukup baik untukmu, kamu membuatku percaya bahwa cinta bukanlah tentang menjadi sempurna. Cinta adalah tentang memilih satu sama lain setiap hari dan bertumbuh bersama.
Hanya dalam dua minggu, akhirnya aku akan berada di Jakarta. Aku tidak sabar menggenggam tanganmu, menatap matamu dan melihat senyummu tanpa layar di antara kita. Dan aku tidak sabar menantikan hari ketika aku tidak perlu lagi melihatmu tidur melalui FaceTime, karena kamu akan tidur di sampingku.
Aku tidak ingin kita membangun hubungan kita hanya berdasarkan cinta. Aku ingin kita membangunnya berdasarkan kejujuran, kepercayaan, komunikasi, dan saling mendukung dalam segala hal yang dibawa kehidupan kepada kita. Agar kita tidak perlu takut menyampaikan apa yang ada di pikiran kita dan mendengarkan satu sama lain dengan rasa hormat dan pengertian. Aku ingin kita terus belajar bagaimana mencintai satu sama lain dengan lebih baik. Aku ingin membuktikan kepadamu setiap hari bahwa aku memikirkanmu dan peduli kepadamu. Bahkan jika itu hanya berarti mengirim reels.
Pertemuan denganmu tidak pernah kuduga. Jatuh cinta kepadamu terjadi perlahan-lahan. Namun memilihmu adalah sesuatu yang ingin kulakukan setiap hari.
Aku mencintaimu, sayang. Dan aku sungguh percaya bahwa bagian terbaik dari kisah kita masih menunggu kita.